Oleh: Bunda Erma E. (Pemerhati Umat dan Generasi)
Negeri ini baru saja merayakan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2026. Tema yang diangkat Kemenag adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, dengan harapan santri berkontribusi aktif dalam Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Sungguh sangat mencengangkan, jumlah santri di Indonesia sangatlah banyak. Jumlah santri yang tersebar di puluhan ribu pondok pesantren di Indonesia per Oktober 2026, berdasarkan Data Kementerian Agama (Kemenag) RI jumlah santri terverifikasi (By Name By Address / BNBA) mencapai 4.634.406.
Sungguh potensi yang luar biasa dari jumlah ini oleh karena itu, Hari Santri 2026 diarahkan menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan Indonesia. Santri tidak hanya sebagai pewaris tradisi keilmuan Islam, akan tetapi santri diharapkan tampil sebagai generasi yang mampu berkontribusi di berbagai bidang, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, serta mengamalkan nilai agama agar bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan negara.
Hanya saja, makin kesini peran santri mengalami reduksi. Dimana peran utamanya sebagai calon ulama telah terkikis. Santri didorong lebih banyak berperan aktif dalam pembangunan ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari beberapa program pemberdayaan pesantren dan program Santripreneur serta Kurikulum vokasi. Santri dibekali ketrampilan kewirausahaan, teknologi dan kecakapan kerja untuk mengembangkan kemandirian finansial dan unit usaha di berbagai sektor, yakni pertanian, peternakan, mini market, kuliner, dll.
Selain itu, peringatan hari santri nampak hanya menjadi ajang seremonial dan kompetisi seni, olahraga dan ketrampilan, mines spirit perjuangan dan pengamalan nilai agama dalam kehidupan. Sehingga santri kurang memahami hakikat ilmu dipelajari untuk diamalkan dan didakwahkan.
Pesantren telah berdiri sejah era penjajahan di negeri ini. Spirit pesantren adalah mencetak calon ulama dan pejuang melawan penjajah saat itu. Sehingga peran utama santri adalah menjadi calon ulama dan mendidik masyarakat. Santri dibina di pesantren mengkaji kitab-kitab turats, yakni kitab-kitab para ulama yang dikaitkan dengan realitas kehidupan.
Realitas rusak yang merupakan imbas dari penerapan sistem sekuler kapitalistik hari ini harusnya mampu menggerakkan para santri dan ulama sebagai subjek atau pelaku perubahan, bukan menjadi objek yang makin memperpanjang umur sistem kapitalis.
Juga harus difahami oleh para santri adalah keberadaan Islam sebagai dien dan sistem kehidupan yang mampu menyelesaikan kompleksnya masalah negeri ini. Bukti sejarah yang tak terbantahkan, dimana tegaknya peradaban Islam yang gemilang karena ada peran pemimpin dan kontribusi para ulamanya. Oleh karena itu, santri seharusnya dipersiapkan menjadi pemimpin dan berjuang untuk membangun kembali peradaban Islam di dunia.
Hancurnya Intitusi Kh1l4f4h lebih dari satu abad yang mengakibatkan negeri-negeri kaum muslim terpecah belah dan diterapkan di dalamnya sistem kapitalis yang rusak. Padahal Kh1l4f4h lah yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan menerapkan Syariat Islam secara menyeluruh. Sehingga sudah seharusnya Ulama Bersama para santri dan ummat Islam bersama-sama berjuang menegakkan Kh1l4f4h kembali.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar