Oleh: Ai Dewi Mulyawati
Saat ini, kita melihat banyak sekali siswi sekolah yang berdandan seolah-olah akan menghadiri sebuah pesta, padahal sebenarnya mereka hanya berangkat ke sekolah.
Wajah dipoles berlebihan, seragam melekat ketat menampakkan lekukan tubuhnya — sungguh memprihatinkan melihat hal ini. Tak heran jika berbagai kasus pelecehan, kekerasan, hingga pembunuhan di kalangan remaja semakin sering terjadi. Jelas ini bukan masalah kecil, ini masalah besar yang menyangkut masa depan generasi penerus bangsa.
Pertanyaan yang kemudian muncul, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas masa depan mereka? Apakah cukup hanya dengan menanamkan pendidikan moral di sekolah? Bagaimana seharusnya menangani kasus-kasus yang terjadi saat ini?
Mari kita renungkan lebih dalam. Akar dari masalah yang terjadi adalah sistem yang berlaku. Mengapa? Karena dalam sistem sekuler yang diterapkan saat ini, generasi muda tidak mendapatkan perhatian khusus dan pendidikan yang kuat untuk mewujudkan generasi muda yang tangguh. Sistem sekuler liberalisme yang jelas-jelas memisahkan agama dari kehidupan, menjadi awal mula kehancuran peradaban Islam yang dulu tegak berdiri.
Kemajuan teknologi memang membawa kemudahan, namun akses terhadap berbagai macam konten, saat ini sangat mudah didapatkan — tanpa adanya filter yang memadai dari pemerintah.
Situs-situs yang berbau pornografi, pornoaksi, dan paham-paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran, dengan bebas menjadi konsumsi mereka sehari-hari tanpa pengawasan dan batasan.
Bahkan saat ini, budaya asing pun masuk dengan sangat mudah. Banyak artis luar negeri yang datang silih berganti menggelar pertunjukan dan jumpa fans di Indonesia. Hal ini dianggap sekadar hiburan belaka, padahal di sinilah letak pergeseran kebudayaan yang perlahan terganti.
Arah kiblat, makanan, film, mode pakaian, dan gaya hidup mereka perlahan berubah. Generasi muda kita mulai memuja tokoh-tokoh yang tidak berasal dari kalangan pribumi, menjadikan mereka sebagai teladan, hingga perlahan menjauh dari nilai-nilai luhur keagamaan yang seharusnya mereka pegang. Tidak heran jika kasus-kasus di kalangan remaja semakin banyak dan sulit dikendalikan.
Akan sangat berbeda jika syariat Islam diterapkan saat ini. Islam hadir dengan solusi nyata yang langsung menyentuh akar masalahnya:
Pendidikan Adab yang Diterapkan Sejak Dini
Pendidikan adab dan moral harus dimulai dari rumah, sejak anak masih kecil. Ketika anak gadis mulai beranjak remaja, orang tua wajib membimbing mereka menjelaskan tentang hukum-hukum Islam (halal, haram, sunnah, makruh, dan mubah) memberikan pemahaman tentang hal-hal mana yang boleh dilakukan, dan mana yang harus dijauhi, terutama dalam bab penampilan dan pergaulan dengan lawan jenis.
Memahami Makna Tabarruj dengan Benar
Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 33:
وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا
"Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."
Tabarruj adalah segala bentuk perilaku seorang wanita yang menampakkan kecantikan, perhiasan, atau keindahan dirinya kepada laki-laki yang bukan mahram. Ini bukan hanya soal membuka aurat. Cakupannya meliputi:
- Memakai pakaian yang ketat, mencolok, atau transparan
- Berdandan berlebihan saat berada di luar rumah
- Memakai parfum yang tercium oleh laki-laki bukan mahram
- Sengaja memperlihatkan perhiasan atau bagian tubuh yang indah
- Berbicara atau berjalan dengan gaya yang memikat hati lawan jenis
Frasa tentang "wa qarna fi buyutikunna" (tetaplah di rumahmu) bukan berarti perempuan tidak boleh keluar rumah sama sekali. Para ulama sepakat, perempuan boleh keluar untuk keperluan yang dibenarkan syariat — seperti menuntut ilmu, beribadah, atau urusan-urusan penting lainnya. Namun saat keluar, dilarang melakukan tabarruj.
Beberapa prinsip yang perlu kita pegang bersama adalah:
- Berhias itu boleh, bahkan dianjurkan akan tetapi hanya untuk suami dan keluarga terdekat, bukan untuk umum (bukan mahram).
- Hijab bukan sekadar penutup tubuh, melainkan penjaga kehormatan.
- Saat keluar rumah, berpakaianlah yang sopan sesuai syariat, sederhana, dan tidak menarik perhatian yang tidak semestinya.
Menumbuhkan Rasa Malu di Hati
Selain aturan berpakaian, yang tak kalah penting adalah menumbuhkan rasa malu di dalam diri anak-anak kita. Rasa malu adalah sebagian dari iman. Ketika seseorang memiliki rasa malu yang kuat, ia akan menjaga dirinya sendiri, di mana pun ia berada. Rasulullah Saw. bersabda: "Rasa malu itu adalah sebagian dari iman." (HR. Bukhari dan Muslim).
Kecantikan seorang muslimah terindah ketika ia menjaganya untuk orang yang berhak menerima, yaitu suaminya dan keluarga terdekatnya. Rasa malu, kesederhanaan, dan ketaatan adalah perhiasan yang jauh lebih indah dan abadi daripada perhiasan duniawi.
Saat ini rasa malu di kalangan remaja khususnya remaja putri sudah menjadi sebuah barang yang langka, sebab pengaruh dari tontonan yang perlahan mengikis dan meniadakannya, sehingga pergaulan bebas pun tak bisa terelakkan lagi.
Dengan demikian maka semakin banyak bukti bahwa yang diperlukan saat ini adalah perubahan sistem, oleh karena itu marilah kita bersama bersatu melangkah ke arah pembenahan, dengan mulai menerapkan syariat Islam yang kaffah dalam berkehidupan.
Wallahu'alam bishshawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar