Oleh : Muthi Nidaul Fitriyah 
(Tanjungmedar, Sumedang)

Dicky Budiman, epidemiolog dari Griffith University Australia memaparkan new normal life adalah bagian dari strategi yang diterapkan selama belum ditemukannya vaksin atau obat untuk virus corona. (kompas.com). Pemerintah Jawa Barat mengklaim Pembatasan Sosial Berskala Besar tingkat provinsi yang berlangsung sejak 6 Mei lalu telah membuahkan hasil. Ada lima wilayah yang dianggap berhasil yaitu, Kabupaten Bandung Barat, Garut, Pangandaran, Sumedang, dan Kota Sukabumi. Gubernur Jabar mengatakan kelima wilayah boleh melaksanakan seluruh kegiatan yang sebelumnya terlarang, seperti salat Jumat dengan tetap mematuhi protokol pencegahan penularan Covid-19. Boleh 100 persen, tapi tidak boleh ada kerumunan sosial. Inilah yang dimaksud dengan new normal. (koran.tempo.co)
Khusus Kabupaten Sumedang keputusan pemerintah pusat itu masih dalam proses pengkajian dan menunggu arahan dari Pemprov Jabar. Sebagaimana kebijakan-kebijakan sebelumnya, pemerintah daerah bagaimanapun harus tetap mengikuti arahan pemerintah pusat. 

New normal life nampak seperti angin segar, namun perlu kita cermati bahwa ternyata prioritas bukan lagi pada penyelamatan kesehatan dan jiwa manusia akan tetapi penyelamatan ekonomi dengan prioritas kesehatan di kembalikan kepada masing-masing individu (herd immunity). Jika kita lihat secara nasional, sebenarnya lonjakan kasus terinfeksi masih terus meningkat, namun kenapa pemerintah berani mengambil keputusan new normal? Apalagi tanpa pertimbangan ahli kesehatan dan epidomologi, kebijakan new normal hanya akan berdampak pada kondisi yang semakin buruk. 

Agenda new normal adalah agenda global, solusi untuk ekonomi yang semakin hari semakin ambyar. Sektor-sektor yang semula di tutup harus kembali beroperasi karena kerugian secara ekonomi akan semakin besar. Menetapkan new normal sangat nyata hanya untuk kepentingan bisnis para Kapitalis, membiarkan virus menginfeksi manusia demi sebuah keuntungan materialistis.

Sejauh ini sudah cukup membuktikan bahwa sistem hidup Demokrasi Kapitalis tak pernah layak untuk di terapkan dan untuk menyelesaikan permasalahan manusia kecuali hanya kekacauan. Covid-19 seharusnya bisa tuntas di Wuhan, Cina, namun nyatanya sistem ini membiarkan virus ini terus menyebar ke seantero bumi. Jiwa manusia tak pernah lebih berharga dari keuntungan Kapitalis. 
Demokrasi Kapitalisme adalah ideologi rusak, membangun Sistem bernegara atas dasar keputusan akal bahkan tanpa pemikiran karena diambil berdasarkan suara terbanyak, tidak peduli benar salah dan akibat apa yang akan terjadi. 
Allah SWT sudah mengingatkan kita semua dalam surat Al-Isra ayat 85:
... dan tidaklah kamu di beri pengetahuan melainkan sedikit.
Dengan sedikitnya ilmu itu, Kapitalisme hadir melahirkan manusia yang jumawa, arogan, mengatur politik dan urusan manusia berdasarkan konsep-konsep akal manusia terbatas, yang merusak, yang akhirnya menjerumuskan mereka dalam masalah demi masalah kehidupan.

Aturan Islam adalah aturan yang lahir dan diturunkan Allah SWT untuk manusia di bumi. Aturan yang sudah terbukti mampu membawa manusia ke peradaban gemilang, keemasan 1400 tahun lamanya.  Maka solusinya tiada lain adalah kembali kepada turan Allah SWT, menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam aspek individu dan Negara. Berharaplah keberkahan, kerahmatan dan kesejahteraan hidup bernegara kepada pemilik kehidupan dan aturan yang telah di turunkan-Nya.