Klaim China Atas Natuna Bukti Kedaulatan Indonesia Dalam Bahaya


Oleh : Dewi Soviariani (Ibu dan pemerhati umat)

Pulau Natuna, pulau menawan yang melimpah gas dan sumber daya alam lainnya. Pulau yang terletak di perbatasan Indonesia menyimpan potensi besar yang hingga kini wilayah nya menjadi rebutan dua negara. Entah darimana letak  hubungan nya tiba tiba negeri tirai bambu mengklaim Natuna sebagai miliknya. Tentu nya tak banyak masyarakat mengetahui fakta ini. Berdasarkan informasi Kapal latihan militer China tak segan memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia atau disebut Laut Natuna. Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Laksamana Madya Aan Kurnia mengungkapkan, kapal patroli China memasuki ZEE di 200 mil lepas pantai Kepulauan Natuna utara pada Sabtu 12 September 2020 dan menyingkir pada Senin 14 September setelah dilakukan komunikasi radio.

Dilansir dari  KOMPAS.com – China disebut menuntut Indonesia menyetop pengeboran minyak dan gas bumi (migas) di Laut Natuna Utara. Sebuah surat dari Diplomat China kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia menuntut Indonesia menghentikan pengeboran di rig lepas pantai di sana. Sangatlah jelas bahwa hal ini merupakan upaya perebutan wilayah kedaulatan sebuah negara merdeka yang berdaulat. Ini adalah perampokan sebuah negara terhadap negara lain yang sama-sama berdaulat. Nampak Cina ingin menunjukkan hegemoninya di kawasan Indo Pasifik. Jelas ini merupakan “serangan” yang efeknya bisa bermacam-macam. Dari mulai stabilitas keamanan sebuah kawasan, sampai pada konflik ideologi. 

Dari data yang diperoleh, Natuna mempesona negara imperialis karena kekayaan alam nya yang melimpah. Kepulauan Natuna memiliki cadangan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik bahkan di Dunia. Di dalam perut buminya juga bergelimang minyak. Ladang gas D-Alpha yang terletak 225 km di sebelah utara Pulau Natuna (di ZEEI) dengan total cadangan 222 trillion kubik feet (TCT) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCT merupakan salah satu sumber terbesar di Asia. Menurut data Ditjen Migas Kementerian ESDM pada Januari 2016, Natuna memiliki cadangan gas alam terbesar di Indonesia, yakni mencapai 49,87 persen. Bahkan disebutkan oleh para ahli, cadangan gas alam Natuna ini adalah yang terbesar di dunia. Belum lagi dengan potensi sumber daya lautnya, di kepulauan yang terletak di teras depan negara Indonesia ini terhampar aneka jenis terumbu karang yang sangat memukau.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, perairan Natuna memiliki potensi ikan pelagis mencapai 327.976 ton, ikan demersal 159.700 ton, cumi-cumi 23.499 ton, rajungan 9.711 ton, kepiting 2.318 ton, dan lobster 1.421 ton per tahun. Kemudian, juga ada potensi ikan kerapu, tongkol, teri, tenggiri, ekor kuning, udang putih, dan lainnya. (cnnindonesia.com). Sedangkan untuk komoditas perikanan tangkap potensial Kabupaten Natuna terbagi dalam dua kategori, yaitu ikan pelagis dan ikan demersal. Potensi ikan pelagis Kabupaten Natuna mencapai 327.976 ton/tahun, dengan jumlah tangkapan yang dibolehkan sebesar 262.380,8 ton/tahun (80% dari potensi lestari). Pada tahun 2014, tingkat pemanfaatan ikan pelagis hanya mencapai 99.037 atau 37.8% dari total jumlah tangkapan yang dibolehkan. Selebihnya yaitu sebesar 163.343,8 ton/tahun (62.25%) belum dimanfaatkan (kompas.com, 4 Januari 2020).


Kapitalisme biang kerok terancamnya kedaulatan negara

Namun sayang seribu sayang jika kandungan kekayaan alam tersebut tidak terjaga dalam perlindungan negara. Pemerintah gagal menjaga wilayah Natuna sehingga membahayakan kedaulatan bangsa. Semua terjadi karena pemerintah Indonesia tidak mampu menjaga wibawa, banyak tergantung pada China hingga gagal menjaga kedaulatan. Berdasarkan data Badan Koordinator dan Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari Cina di Indonesia selama triwulan ketiga 2019 mencapai 1,023 miliar dollar AS. Jumlah proyek Cina di Indonesia pun mencapai 1.619 proyek. Inilah yang menjadi batu sandungan untuk kasus Natuna. Ini pula yang membuat Cina menjadi arogan, sehingga Pemerintah seperti terbata-bata dan kikuk untuk secara frontal bersikap, bahkan sikap Presiden dan kepala staf Pertahanan berbeda. Pemerintah cenderung mengabaikan sikap arogansi China atas klaim nya terhadap Natuna.

Berdiri atas ideologi kapitalisme, satu persatu wilayah kekuasaan Indonesia menjadi milik asing. Atas nama Demokrasi Kapitalisme  penjajahan ekonomi berhasil membuat kedaulatan Indonesia berada dalam bahaya. Berbagai upaya dilakukan oleh penguasa telah gagal mengusir China dari perairan Indonesia. Mereka kembali lagi dengan lancang nya siap untuk merebut kawasan Natuna dan merampok SDA yang terkandung didalamnya. Tak ada sikap tegas untuk mengambil tindakan atas situasi ini. Jika terus bertahan pada sistem Demokrasi kapitalisme maka tak hanya Natuna saja yang akan diklaim, pulau pulau lain di negeri ini pun akan mereka kuasai.


Islam menawarkan solusi terbaik

Jika melihat perbandingan antara ideologi kapitalisme dan ideologi Islam kita akan melihat jurang pemisah yang sangat dalam . Perbedaan penerapan aturan dalam mengatur negara. Islam memandang kedaulatan sebuah negara adalah sesuatu yang wajib untuk dijaga dan dilindungi dari ancaman hagemoni negara penjajah. Tidak ada negosiasi dalam hal menjaga kedaulatan. keutuhan wilayah adalah wajib, karenanya wajib untuk mempertahankan wilayah kepulauan Natuna dari gangguan negara-negara lain yang hendak menguasainya, termasuk Cina. Hal ini didasarkan pada hadis: Dari Arfajah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jika ada orang yang datang kepada kalian, ketika kalian telah sepakat terhadap satu orang (sebagai pemimpin), lalu dia ingin merusak persatuan kalian atau memecah jama’ah kalian, maka perangilah ia.”(HR Muslim).

Indonesia sudah seharusnya memutus hubungan dengan Cina, bukan bekerja sama dengannya. Dalam Islam, Cina dapat dikategorikan sebagai negara kafir harbiy , yaitu negara asing yang sedang memerangi negara muslim. Terlebih lagi, saat ini dapat dikategorikan kepada ad-dawlah al-kafirah al -harbiyah al-muhΓ’ribah bi al-fi’li yaitu negara kafir harbi yang benar-benar sedang memerangi umat Islam secara nyata. Terbukti dengan tindakannya yang biadab terhadap kaum muslimin di Uighur. Sikap yang harus diambil terhadap negara kafir harbiy muharibah fi’lan, asas interaksinya adalah interaksi perang, tidak boleh ada perjanjian apa pun dengan negara kafir seperti ini, misalnya penjanjian politik (seperti hubungan diplomasi), perjanjian ekonomi (seperti ekspor-impor), dan sebagainya. Benar-benar tidak ada kerja sama apa pun (An-Nabhaniy, Syakhshiyyah Islamiyyah 2). Sudah saatnya negeri ini melepaskan seluruh ketergantungan pada Cina dan negara-negara lainnya, termasuk Amerika, sehingga menjadi negara yang mandiri.

Kemandirian suatu bangsa akan menentukan terjaminnya keamanan rakyat. Cina yang terus berulang-ulang mengklaim Natuna sebagai wilayah nya hanya bisa dihentikan dengan penerapan aturan Islam secara totalitas. Melalui institusi negara aturan Islam diterapkan sehingga dapat menjadi perisai bagi rakyatnya baik muslim maupun non muslim. Islam menawarkan solusi yang tepat untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman kedaulatan. Sejarah peradaban Islam telah mencatat selama 13 abad negara khilafah Islamiyyah berhasil menjaga keutuhan wilayah nya tanpa ancaman atau pun tekanan dari negara manapun. Cina yang mengusung ideologi selain Islam, maka lawannya juga harus berupa ideologi, yaitu Islam yang secara kaffah diterapkan oleh Negara Khilafah, daulah khilafah Islamiyah. Tegaknya Daulah Islamiyah merupakan kewajiban dari Allah dan juga merupakan warisan Rasulullah saw.  Maka sudah sewajarnya jika negeri mayoritas muslim ini memiliki kedudukan yang kuat dengan penerapan Islam kaffah sehingga dapat membebaskan diri dari cengkeraman ideologi kufur yang terus menjarah kekayaan Sumber Daya Alam nya yang melimpah.

Allahu A'lam bisshawwab.



Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar